Menulis Bunga Matahari


Pada hakikatnya, semua karya seni--termasuk sebuah buku--merefleksikan banyak faset dalam diri penulisnya. Hal tersebut juga berlaku untuk Bunga Matahari. Secara fundamental, Bunga Matahari merefleksikan tidak hanya nilai-nilai yang saya anut secara personal, tetapi juga pengalaman hidup yang mendasarinya. Tapi, pernyataan tersebut tidak untuk disalahartikan bahwa buku ini bersifat autobiographical, atau dalam bahasa marketing populernya, 'based on true story'. Itu pernyataan yang sedikit kompleks, karena saya rasa semua karya seni akan selalu didasari pada sesuatu yang nyata. Life imitates arts as arts imitate life

Saya mulai menulis Bunga Matahari pada paruh awal tahun 2022. Tetapi sesungguhnya, konsepsi dari buku ini dimulai sejak lama--lama sekali. Dalam imajinasi alam bawah sadar saya, plot dan kisah dari Bunga Matahari sudah mulai mengambil bentuk sejak saya SMA. Untuk itu, setting dan penulisan yang bersifat teenlit menjadi pilihan yang natural. Buku ini adalah monumen untuk apa yang saya rasakan dan alami semasa SMA, bukan scene-to-scene dimana saya mengabadikan setiap hal yang terjadi dengan presisi, tapi ini adalah upaya saya untuk memproses era tersebut dan mengambil pelajaran darinya. Puppy love, first love, perasaan seorang gadis remaja. Hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang merupakan perasaan universal untuk seorang anak perempuan. 

Plot dari novel ini, saya rasa, bukan sesuatu yang eksepsional. Faking a relationship into reality, itu saya rasa sudah banyak diangkat dalam buku-buku fiksi. Tapi, yang membuat buku ini spesial, di mata saya, adalah setiap dari karakternya. Kika memiliki learning difficulty, sesuatu yang secara personal saya alami. Kemudian Tiara memiliki asperger, yang menurut saya mengakomodasi anak-anak dengan kondisi serupa dalam setting cerita fiksi. Tapi, karakter favorit saya sebenarnya adalah Tio. Menurut saya, dia adalah karakter yang sangat unik, karena dia merupakan amalgamasi dari banyak karakter, tokoh, dan potongan-potongan orang yang pernah saya temui. Tio, dalam bayangan saya, menyimbolkan the best in men. Sebagai seorang perempuan, mudah bagi saya untuk melihat keburukan-keburukan lelaki, tetapi Tio adalah personifikasi dari segala hal baik yang saya percayai ada dalam diri kaum adam, dan untuk itu dia adalah karakter yang sangat spesial. 

Kurang-lebih saya menyelesaikan Bunga Matahari dalam kurun waktu 3 bulan. Editing dan proofreading saya selesaikan sekitar 2-3 minggu. Kemudian, naskah saya kirimkan kepada beberapa penerbit potensial dan mendapatkan perhatian dari Penerbit Erlangga melalui imprint Esensi. Dalam hal penulisan, saya harap pembaca sekalian dapat memaklumi bahwa kekurangan apapun yang terdapat dalam buku pertama saya, itu semata-mata disebabkan karena minimnya pengalaman. Saya cukup percaya diri bahwa sebagai seorang penulis saya terus berevolusi, dan apabila Bunga Matahari ditulis pada hari ini, maka buku tersebut akan menjadi sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Terkait diskusi teknis ini, detail dunia penerbitan dan lainnya, saya rasa lebih baik saya jabarkan dalam post yang berbeda. 

Demikian pun saya bisa menulis ulang Bunga Matahari, itu tidak akan saya lakukan. Ada sesuatu yang sangat tulus dalam buku pertama saya ini. Saya menulisnya semata-mata dengan perasaan penuh cinta, kepada diri saya sendiri, kehidupan saya, hal-hal yang telah saya lalui, dan orang-orang dalam hidup saya--mereka dari masa kini, masa lalu, dan masa depan. Ketika saya menulis Bunga Matahari, saya sedang berada dalam masa transisi yang cukup berat dan buku ini merupakan jangkar yang memberikan saya stabilitas. Kalau saya diberi kesempatan untuk menulis lebih banyak lagi buku di masa depan, dan bahkan seandainya saya bisa menulis autobiografi untuk diri saya sendiri, semuanya itu tidak akan bisa mereplikasi ketulusan saya dalam Bunga Matahari. 




Komentar